Bisnis Indonesia Hari Ini di Bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

November 4, 2025
Profil Purbaya Yudhi Sadewa, Ekonom LPS yang Kini Jadi Menteri Keuangan ...

Bisnis Indonesia Hari Ini di Bawah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa

M landscape bisnis Indonesia sedang memasuki babak baru sejak Purbaya Yudhi Sadewa resmi menjabat sebagai Menteri Keuangan pada 8 September 2025. Sebagai ekonom yang lama berkecimpung di LPS dan Danareksa, Purbaya datang dengan gaya yang cukup tegas dan “pro-pasar”, tetapi tetap menekankan disiplin fiskal dan penegakan pajak.(Wikipedia)

1. Arah Besar: Tumbuh 5,2% Sekarang, Incar 8% ke Depan

Purbaya berulang kali menyatakan keyakinan bahwa ekonomi Indonesia bisa tumbuh sekitar 5,2% pada 2025, dengan dorongan konsumsi domestik, investasi, dan stimulus fiskal.(detikfinance) Di sisi lain, ia juga mengamini target Presiden Prabowo untuk mengejar pertumbuhan 8% dalam beberapa tahun ke depan—target yang ia sebut berat, tapi tetap mungkin jika investasi dan transfer teknologi bisa dimaksimalkan.(detikcom)

Bagi pelaku bisnis, pesan utamanya jelas: pemerintah ingin pertumbuhan yang lebih tinggi, dan dunia usaha diharapkan jadi motor utamanya, bukan hanya penonton.

2. Suntikan Rp200 Triliun ke Bank Himbara: Sinyal Kredit Lebih Longgar

Salah satu langkah paling kontroversial dan langsung terasa bagi dunia usaha adalah keputusan memindahkan sekitar Rp200 triliun dana pemerintah dari Bank Indonesia ke bank-bank BUMN (Himbara). Tujuannya: menambah likuiditas agar kredit ke sektor riil bisa lebih agresif.(Media Indonesia)

Bagi pengusaha, terutama sektor manufaktur, perdagangan, dan konstruksi, langkah ini bisa berarti:

  • Akses kredit lebih mudah, khususnya KUR dan pembiayaan modal kerja.
  • Bunga berpotensi lebih kompetitif jika bank benar-benar didorong menyalurkan dana ke dunia usaha, bukan sekadar membeli SBN.

Menkeu bahkan mengingatkan bank BUMN agar tidak menggunakan dana negara untuk beli valas atau SBN, dan mengancam akan “menaikkan pajak” induk perbankan jika kebijakan tidak dipatuhi.(DDTCNews)

3. UMKM: PPh Final 0,5% Diperpanjang, Tapi Diawasi Ketat

Di sisi UMKM, Purbaya mengonfirmasi bahwa skema PPh final 0,5% akan diperpanjang hingga 2029 untuk segmen tertentu seperti koperasi dan UMKM yang benar-benar kecil.(DDTCNews) Ini kabar baik bagi banyak pelaku usaha mikro dan kecil yang mengandalkan skema ini untuk kesederhanaan administrasi pajak.

Namun, ia juga keras terhadap pengusaha besar yang “ngakalin” aturan dengan memecah usaha agar tampak seperti UMKM demi menikmati tarif pajak murah. Pemerintah menyiapkan sistem pengawasan pajak baru untuk mendeteksi praktik tersebut.(detikfinance)

Artinya, untuk UMKM yang benar-benar kecil, kebijakan ini adalah ruang bernapas. Tapi bagi bisnis yang “bermain di area abu-abu”, risiko diaudit dan ditindak menjadi jauh lebih besar.

4. Perburuan Pengemplang Pajak Kelas Kakap

Di level pajak korporasi, Purbaya terang-terangan menyasar pengemplang pajak “kelas kakap”. Sejauh ini, operasi penegakan yang ia pimpin diklaim sudah berhasil mengamankan sekitar Rp8 triliun dari kasus-kasus besar.(ekbis.sindonews.com)

Bagi pebisnis yang patuh, ini bisa menjadi kabar baik karena:

  • Kompetisi jadi lebih fair, pelaku usaha yang curang tak lagi leluasa menekan harga karena mengurangi beban pajak secara ilegal.
  • Negara mendapat ruang fiskal tambahan yang bisa dikembalikan dalam bentuk insentif, subsidi bunga, atau infrastruktur.

Sebaliknya, bagi perusahaan yang struktur pajaknya agresif dan tidak transparan, era Purbaya berarti waktu untuk merapikan pembukuan sebelum terlambat.

5. Investasi Asing: Tidak Mau “Mohon-mohon”, Tapi Selektif

Di hadapan investor asing, Purbaya mengirim sinyal campuran: Indonesia tetap terbuka, tapi tidak akan berlebihan “memohon-mohon” investasi yang hanya mengejar tenaga kerja murah tanpa berbagi teknologi.(Kontan)

Strategi yang ia dorong:

  • Mencari investor yang mau transfer teknologi, bukan sekadar buka pabrik dan kirim laba ke luar negeri.(Antara News Jawa Timur)
  • Membuka kanal aduan langsung dari pelaku usaha dan mendedikasikan satu hari tiap pekan untuk menyelesaikan persoalan regulasi dan birokrasi yang menghambat investasi.(Antara News Jawa Timur)

Bagi dunia bisnis, terutama yang bermain di sektor manufaktur berorientasi ekspor, ini membuka peluang kolaborasi jangka panjang—asal siap bermain transparan dan berinvestasi juga di SDM lokal.

6. Kebijakan Cukai dan Rokok Ilegal

Satu area lain yang penting bagi industri adalah rencana pengaturan cukai baru, termasuk wacana instrumen khusus untuk rokok ilegal. Purbaya ingin mendorong pelaku usaha kecil di sektor ini masuk ke jalur legal sambil menekan praktik produksi gelap.(tempo.co)

Di sisi bisnis, ini bisa mengubah peta persaingan:

  • Pemain besar yang selama ini tertekan kenaikan cukai berharap kebijakan yang lebih “rasional”.
  • Produsen kecil yang selama ini bermain di area abu-abu perlu bersiap beradaptasi dengan aturan baru jika ingin bertahan.

7. Sentimen Pasar: Antara Harapan dan Kekhawatiran

Sejak pelantikannya, pasar keuangan merespons Purbaya dengan kombinasi optimisme dan kehati-hatian. Beberapa analis menilai gaya fiskalnya cenderung lebih ekspansif dan pro-pertumbuhan dibanding pendahulunya, terutama terlihat dari penempatan dana pemerintah di perbankan dan sinyal pelonggaran untuk sektor tertentu.(bkd.riau.go.id)

Namun ada juga kritik bahwa beberapa kebijakan diambil di momen yang belum tentu ideal, terutama ketika inflasi dan tekanan global masih tinggi.(Kontan Nasional)

Bagi pelaku usaha, ini berarti:

  • Short term: Likuiditas melimpah dan ruang pertumbuhan terbuka, terutama bagi sektor yang siap menyerap kredit dan investasi.
  • Medium term: Perlu waspada pada risiko pengetatan mendadak jika inflasi melonjak atau pasar tidak percaya dengan konsistensi kebijakan.

8. Apa Artinya “Bisnis Hari Ini” di Era Purbaya?

Kalau diringkas, kondisi bisnis hari ini di era Menkeu Purbaya bisa dibaca seperti ini:

  1. Uang berputar lebih cepat lewat perbankan, peluang ekspansi usaha terbuka lebih lebar.(Media Indonesia)
  2. UMKM yang genuine di-boost, tapi UMKM abal-abal dan pengemplang pajak kelas kakap sedang diburu.(DDTCNews)
  3. Investor asing tetap penting, tapi harus membawa teknologi dan komitmen jangka panjang, bukan sekadar memanfaatkan biaya murah.(Antara News Jawa Timur)
  4. Iklim regulasi bergerak cepat, sehingga pelaku usaha perlu lebih rajin mengikuti perkembangan aturan pajak, cukai, dan perbankan.

Kalau kamu pelaku bisnis atau calon pengusaha, era ini bisa jadi momentum emas—asal siap bermain bersih, rapi secara pajak, dan adaptif terhadap perubahan regulasi.

Kalau mau, aku bisa bantu bikinkan versi artikel yang lebih formal (gaya jurnal/opini) atau versi yang cocok untuk blog/portal bisnis kamu.

Leave a Comment